“Anak Vs Orang Tua”

Pada akhir tahun 2004, saya dan beberapa kawan membuat semacam studi tata kosumsi dan produksi lokal (level kampung). Metode pengumpulan data ada dua cara, lewat sampling dan lokakarya (workshop). Kejadian yang saya ceritakan ini terjadi pada saat lokakarya. Baca entri selengkapnya »

Komentar (5) »

“Hiiyy Takut Ada Kecoa” (Kecoak Phobia)

Saya takut (kata ngelesnyaa, geli, malu, alergi d el el) sama kecoa. Kenapa? Saya sendiri enggak tahu, yang jelas saya takut sama kecoa. Walaupun semenjak kuliah ketakutannya sudah bisa dikendalikan lagi. Kawan saya lebih parah, sampai saat ini, sudah menikah, dia masih takut secara berlebihan sama kecoa. Maksud berlebihan disini adalah dia bisa melakukan hal-hal tak terduga begitu melihat kecoa, seperti melempar barang yang ada di dekatnya, memukul orang yang berada disampingnya, atau loncat tanpa memperhatikan sekitarnya, alhasil kepala kepentok, kaki tersandung udah biasa, apalagi kecoanya datang secara mendadak.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (7) »

Anak Cerdas ≠ Nilai Fisika, Kimia dan Matematika 10

Dulu waktu saya kecil dan sampai sekitar SMA-an lah mungkin, masih punya pemikiran bahwa anak cerdas atau pinter adalah anak yang sering mendapat nilai matematika, fisika dan kimianya 10. Saat itu, saya menganggap bahwa anak yang berada di kelas IPA (dulu disebut juga A satu, kenapa bukan A tiga yaa?) adalah anak yang relatif lebih pinter dibanding yang masuk IPS ( A dua atau A tiga). Kadang-kadang juga saat ikut nimbrung acara ibu-ibu, sesekali terdengar para ibu bergosip dengan membanggakan anaknya yang masuk IPA atau kuliah di Tehnik (yang pastinya dulu kalo sekolah di tehnik akan mendapat gelar Tukang Insinyur).

Baca entri selengkapnya »

Komentar (2) »

Kok Jadi Tembok Yang Disalah-hin ?

Seringkah kita mendengar ucapan-ucapan seperti ini :

”Mana yang nakal?, ini yaa tembok nya nakal yaa, udah jangan nangis lagi, temboknya udah ayah pukul tuh!”.

Biasanya ucapan di atas muncul pada saat Sang Anak nangis karena terbentur tembok. Terbentur entah karena lantai licin, entah karena lari-lari atau tak sengaja tersenggol orang dewasa. Ucapan tersebut sudah sangat biasa, sangking biasanya seolah-olah sudah menjadi kebenaran umum, atau ucapan yang secara sadar dan nggak sadar terlontar begitu kejadian anak terbentur tembok.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (4) »

“Ati-ati ayah, jangan lama-lama nanti Wana Kangen”

Mendengar ucapan di atas dari mulut Wana saat melepas kepergian saya tugas ke luar kota, sungguh sangat mengharukan. Semangat untuk bertugas, langsung turun ke titik 273 Kelvin, rasanya malas untuk berangkat. Apalagi mengingat akan lama bertugas keluar kota kali ini. Tapi apa mau dikata tugas tetap harus dilaksanakan.

Saya pandangi wajahnya, dia tertawa.  Saya peluk  sekali lagi dan saya cium rambutnya, kemudian bergegas masuk untuk check in, walaupun dengan perasaan hati yang tak beraturan. Terlihat sekilas di sudut mata Sang Bunda ada pantulan cahaya kristal. Sebuah tanda kesedihan yang mendalam.

Kata-kata tersebut selalu terngiang-ngiang walaupun (tak terasa) sudah 2 bulan lamanya meninggalkan rumah. Bagaikan sebuah doa, jampi-jampi atau jimat yang punya tuah, kata-kata tersebut mampu melindungi dan mencegah dari keburukan.

“Wana, ayah kangen juga sama kamu, sayang”

Komentar (1) »

Anak Tahu Kalo Orang Tua Stress karena Pekerjaan

Tak sengaja kemarin membaca artikel yang berjudul ”Kids Offer Advice to Stressed-Out Parents” di http://www.livescience.com/humanbiology/070123_working_parents.html. Setelah membaca isinya terkejut juga, ternyata menurut penelitian yang dituliskan dalam artikel tersebut, anak-anak tahu kalo orang tua pulang ke rumah dalam keadaan stress karena pekerjaan dan disadari atau tidak, stress orang tua karena pekerjaan yang terbawa ke rumah akan mempengaruhi anak.

 

Baca entri selengkapnya »

Komentar (2) »

Boneka Kesayangan Yang Bikin Khawatir

Si Wana punya boneka kesayangan, boneka yang menyerupai binatang babi, berwarna merah muda dan berbentuk bantal (lihat gambar). Boneka ini hadiah dari kawan Sang Bunda, lupa kapan tapi mungkin pas Si Wana berumur 6 bulanan. Disebut Boneka kesayangan karena setiap saat, dimanapun, kapanpun boneka tersebut harus berada di sampingnya atau dalam pelukanya, apalagi saat-saat menjelang mau tidur atau dalam kendaraan saat sedang melakukan perjalanan. Lucunya kalo pas mau berangkat jalan-jalan dia kadang-kadang mengabsen ” Mbak mana?, Unda Mana, Aby (boneka baby) mana?”. Baca entri selengkapnya »

Komentar (2) »

Wana Hujan-Hujanan?

Jangan kaget dengan judul di atas, emang Sang Bunda yang menyuruh Wana untuk main hujan-hujanan. Maksudnya apa? Sederhana aja, Sang Bunda pengen anaknya merasakan air hujan langsung dari langit biar tahu dan enggak takut, itu saja, nggak lebih nggak kurang. Nggak takut sakit? Ibunya bilang nggak takut karena sudah disiapkan air hangat untuk mandi dan makanan-minuman hangat. Lagian jaman sekarang, udah banyak dokter hebat, spesialis lulusan luar negeri masa ngobatin anak sakit karena kehujanan nggak mampu. Baca entri selengkapnya »

Komentar (1) »

Pakaian Anti Bakteri Untuk Anak

“Aduuhh cucian banyak sekali, Wanaaa, Tirtaa, jangan kotor-kotoran yaa, kasihan kan mbak nyuci melulu”. Itu teriakan Ibunya WanaTirta begitu lihat pakaian yang menumpuk di keranjang pakaian kotor. Padahal ada sebuah iklan sabun cuci yang selalu berpesan ” Kalau enggak kotor yaa enggak belajar”. Nah loh gimana nih, tambah pusing kan Sang Bunda.

Kepusingan Sang Bunda mungkin akan segera terjawab, saat ini sudah ada bahan anti kotor, anti air dan dapat membunuh bakteri sekaligus. Hebat Bukan!. Bahan ini dikembangkan oleh para peneliti yang bekerja di US Air Force untuk kebutuhan tentara Amerika yang pergi ke medan laga, khususnya dalam menghadapi senjata biologi. Para peneliti telah mencobakan T-Shirt dan Underwear kepada tentara Amerika yang bertugas di Irak. Selama beberapa minggu penggunaan tanpa ganti dan cuci ternyata tidak ada keluhan kulit. Bahan tersebut aktif membunuh bakteri.

N ah, ini tentu sebuah khabar baik bukan untuk ibu-ibu dirumah. Menghemat air, menghemat sabun dan akhirnya stress juga hilang karena anak-anak aman bermain tanpa harus khawatir terkena bakteri dan kotoran.

Selengkapnya baca di :

http://www.telegraph.co.uk/news/main.jhtml?xml=/news/2006/12/31/nwash31.xml

Tabik

Komentar (2) »

Nggak Akit (Sakit) Kok Ayah?

Tadi pagi si Wana jatuh waktu lari-lari di tanah lapang pinggir rumah tapi dia langsung bangun lagi dan hanya bilang ” aduh ana atuh, ayah”. Sebagai orang tua yang baik, tentunya langsung saja Ayah nya bertanya,

Ayah : ” Mana yang sakit Wana?”

Wana : ” enggak akit kok ayah”, dia menjawab dengan polosnya, padahal jelas-jelas lututnya mengeluarkan darah.

Ayah : “Loh, itu kakinya berdarah Wana”

Wana : “enggak akit kok, ayahhh”, sang anak menegaskan dan tidak menangis sama sekali.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (7) »

Bayi jika tak diberi ASI boleh nuntut

Sebagian ibu sudah tahu kalo ASI (Air Susu Ibu) baik buat bayi, tetapi ada sebagian lagi yang beranggapan susu formula lebih baik buat bayi. Mana yang betul nih?

Kita lupakan dulu pertanyaan di atas, karena ini bukan masalah betul salah, tetapi ini merupakan hak asasi. Hak bayi untuk mendapatkan makanan yang terbaik dan makanan terbaik untuk bayi sampai dengan umur satu (1) tahun adalah ASI, bukan susu formula. Susu formula walaupun dibuat dengan teknologi secanggih apapun dan se-steril apapun sehingga harganya menjadi mahal, ternyata belum sanggup menandingi ASI khususnya dalam hal membangun antibodi dan kandungan subtansi kekebalan lainya, yang mana dapat melindungi bayi dari penyakit. Selain itu, ASI juga mengandung faktor-faktor pertumbuhan, hormon-hormon dan subtansi lain yang membantu pertumbuhan bayi dalam kecepatan yang sesuai. Dalam ASI pun sudah mengandung Asam-Asam Lemak yang membantu pertumbuhan otak dan kecerdasan. Baca entri selengkapnya »

Tiada komentar »

Film Kartun ≠ Film Anak

Saya pikir, setiap orang yang membaca judul di atas pasti akan setuju. Apalagi belum lama ini banyak anak yang menjadi korban (dari sekedar luka-luka memar sampai mati) tayangan acara “smack down”, yang mana ada versi kartun dan bukan kartunnya. Untungnya pemerintah cepat tanggap (tumben banget) segera melarang tayangan acara ini, walaupun sudah jatuh korban duluan.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (8) »

Nonton TV Menyebabkan Autis?

Bapaknya si Wanatirta bulan kemarin jalan-jalan ke rumah kawannya yang tinggal di Sanur, Bali. Sekalian dia ajak juga si Wana (emang bapaknya ini sayang betul ama si Wana). Sewaktu istirahat siang di ruang keluarga, Si Bumi, anaknya kawan bapaknya si Wana minta nonton film (lupa nama filmnya..sejenis teletubis lah). Kemudian Kawannya itu ajak bapaknya si Wana untuk nonton sama-sama,  ” ayo nonton film, si Wana boleh kan nonton film (Wana belum 2 tahun), karena ada temen saya yang melarang anaknya nonton film, apalagi siaran TV”.

Bapakya si Wana diem aja, sambil ikut ke ruang keluarga, tapi dalam hati berkata

” kayanya si Wana tuh sering nonton film atau acara TV di rumah, emang kenapa yaa”.

” emang kenapa kalo nonton TV?”.

Kawan bapaknya si Wana menjawab ” loh nggak tau yaa, sering nonton TV kan bikin anak autis, apalagi sekarang banyak sinetron yang nggak mendidik”.

Sampai dirumah tiga hari kemudian, bapaknya si Wana perintahkan ke istrinya dan si Mbak yang urus Wana untuk tidak nonton TV saat si Wanatirta masih bangun, Walaupun ketika ditanya belum tahu jawabnya. Tetapi karena ibunya si Wana penurut, yaa sampai sekarang ini, di rumah si Wanatirta tidak ada yang nonton TV sebelum si Wanatirta tidur, kecuali film anak yang suka dijual di mall-mall.

Mungkin ada kawan yang tahu jawabanya?

Tabik

Tiada komentar »

Kok Mainan Si Wana Rusak Melulu?

Ibunya si Wana kemarin curhat bahwa si Wana (yg umurnya belum 2 tahun loh) seringkali merusak mainan yang baru dibeliin. Boneka, langsung putus lehernya, mobil-mobilan langsung amburadul di banting, piano-pianoan jebol karena terlalu keras dipencet-pencet, apalagi krayon beli mahal-mahal patah semua, masih mending kadang-kadang jadi serpihan nggak jelas. Ibunya si Wana ini kayanya mulai menuduh bahwa si Wana nggak bisa awet, atau bosenan kalo dibeliin mainan, pasti dirusak melulu, akibatnya si Wana nggak pernah lagi dibeliin mainan. Kasihan betul dia, pas saya lihat juga dia sedang bermain dengan barang-barang rongsokan.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (3) »

Bedong dan Popok Baru

Ini masalah keyakinan, betul nggaknya urusan belakangan. Waktu melahirkan anak pertama, mertua sibuk nyuruh-nyuruh untuk nyiapin bedong dan popok baru, kalau nggak pamali alias ora ilo (apa yaa bahasa indonesiasnya..?). Walaupun duit udah cekak, terpaksan juga nyiapin berapa bedong, popok dan akhirnya dua pasang baju bayi baru untuk lahiran anak pertama, yaah daripada pamali lebih baik tekor dech.

Begitu waktu lahiran tiba, kebetulan ada beberapa calon ibu juga mau lahiran diruangan yang sama (maklum rumah sakit pemerintah kelas 3 pula) para suster minta sepaket perlengkapan bayi, nahh ini dia, dikeluarin lah sepaket perangkat bayi yang baru-baru dari toko tersebut, giliran calon ibu tetangga yang diminta, ternyata boro-boro baru mungkin untuk sebagian orang udah jadi lap mobil (maaf yaa, faktanya begitu). Timbul pikiran “kok nggak takut pamali yaa” kemudian timbang penasaran lebih baik tanya aja,

“bu, kok nggak dikasih yang baru ke suster yaa”

“enggak non, abis nggak punya uang, kalo punya juga mending buat bayar lahiran”. Nah lo, tanya terus dong,

“Ibu nggak takut pamali klo enggak ngasih bedong ama popok baru”

“Pamali kenapa non, punya nya emang itu kok, lagian keluarga saya mah udah biasa kok pake kain-kain bekas aja, malah ada ponakan saya waktu lahir pake bekas kakaknya, sehat-sehat aja tuh sampai sekarang”. Si Ibu balik nanya, ” emang kata siapa pamali?”.

kalau dijawab dari mertua nggak enak, lebih baik jawab ” aah enggak denger-denger aja dari tetangga bu”.

Kayanya kata si Ibu emang betul, enggak ada hubungan bedong, popok dan baju baru untuk keselamatan si jabang bayi. Ternyata emang saya yang kena tipu mertua, karena mertua nggak mau mendapat malu kalo cucunya pake bedong hanya kain bekas saja, malu dilihat sama teman-temanya yang nengok. Padahal kalo mau dipikir-pikir lagi, emang bayinya bakal protes kalau dipakein kain biasa atau bekas, kayaknya dia nggak pusing tuh. Kasihan sekali nasib anak bayinya, belum keluar aja udah di eksploitasi.

Tabik

Tiada komentar »