Membaca judul di atas aneh bukan? kok film anak malah mengerikan. Memang begitu, setidaknya menurut pendapat saya pribadi. Beberapa kali saya menonton acara sinetron/film anak yang diputar di TV. Pada saat ditengah tayangan seringkali saya kaget, merasa aneh dan merasa kuno. Bagaimana tidak, anak-anak yang berseragam SD atau SMP sekarang sudah canggih-canggih. Canggih dalam merencanakan sebuah kejahilan (mungkin cenderung kejahatan) kepada teman-nya sendiri. Canggih dalam mengajak rekan-rekanya melakukan kejahilan kepada kawan-nya sendiri. Canggih dalam menggunakan dengan segala fasilitas hi-tech yang ada. Kalau ada penggalan cerita dengan setting di sekolah, jarang yang lagi berdiskusi/belajar kebanyakan sedang bergosip, merencanakan kejahilan, berkelahi atau sedang mengintimidasi korban (kawan-nya yang lebih lemah).
Celakanya, pemeran korban (kawan yang lemah ini) juga sangat berlebihan. Menderita terus dan sial terus. Tidak ada kehendak untuk melawan, kecuali kalau ada mukjizat atau bantuan dari peri. Bagi saya ini sangat aneh. Terkadang ada hal lucu juga, anak-anak disuruh berperan jadi gelandangan atau orang miskin tetapi pakaian nya terlihat mahal, kulitnya mulus dan bersih serta alas kaki yang mahal. setelah itu ujung ketemu sama orang kaya yang merasa kasihan dan diangkat anak. kalau tidak, ketemu keluarganya (ortunya, neneknya, pamanya dll) yang kaya dan jadi kaya akhirnya.
Kadang jadi ingat acara boneka Si Unyil atau film ACI (Aku Cinta Indonesia) yang nampaknya lebih relatif mendekati kenyataan sehari-hari pada umum-nya. Nonton sinetron/film anak kita jaman sekarang sungguh mengerikan sekaligus menggelikan.
tabik
shinyo said,
3 November 2010 @ 1:53 pm
SETUJU, TAPI APA YG BISA KITA LAKUKAN SEBAGAI ORANG TUA??
Bayu said,
11 October 2011 @ 5:29 pm
Seharusnya lebih banyak filem seperti Laskar Pelangi, yang mendidik anak mempunyai semangat juang dalam meraih ilmu atau kehidupan, dikemas sangat menarik dan laku dipasaran.
Tema filem anak sangat banyak namun para penulis sekenario yang berkualitas untuk pendidikan anak sangat sedikit. Saya rasa ini merupakan peluang yang menjanjikan bagi industri perfileman di Indonesia.