Archive for January, 2010

Kepala Sobek

Pada hari sabtu 23 Januari kemarin, Tirta dan kakaknya maen di rumah. Mereka main sarung-sarungan berdua. Mondar-mandir sana-sini dalam sarung berdua. Mbaknya dan bundanya berkali-kali mengingatkan untuk berhati-hati dan jangan terlalu dekat dengan lemari atau tembok. Sampai suatu ketika, ketika Mbak-nya pergi makan dan bundanya sedang beres-beres di kamar terdengar suara benturan ‘jedduuuk” disusul suara tangisan si Tirta. Bundanya segera melihat dan ternyata kepalanya Tirta berdarah, sobek. Panik sambil merangkul Tirta bundanya menyuruh Mbaknya panggil ojek dan menenangkan kakaknya yang juga ikut menangis. Tak lama ojek datang dan  segera membawa tirta ke rumah sakit. Pada saat dilakukan perawatan di rumah sakit,  Tirta tidak menangis sedikitpun, baik saat disuntik (bius lokal) maupun saat dijahit.  Hal ini membuat dokter dan perawat menjadi gemas, kok bisa anak diam saja lihat jarum dan darah he.he.he..

500-size-IMG00039-20100123-1951 500-size-IMG00038-20100123-1932

Loh Ayahnya kemana?. pada saat kejadian ayahnya sedang kerja diluar kota. begitu mendapat telepon bahwa Tirta kepalanya sobek ayahnya Tirta sempat bingung juga, tetapi ternyata dia memiliki istri yang cekatan, yang mampu mengatasi keadaan dengan cepat dan berpikir jernih. terima kasih Tuhan.

setelah semua beres, maksudnya kepala Tirta yang sobek sudah dijahit, dan kembali kerumah. Bundanya sempat melontarkan pertanyaan “Yah, kalau pas nggak ada kita berdua bagaimana? apakah bisa Mbaknya mengatasi?. Pertanyaan  yang tak terjawab dan mudah-mudahan tak pernah terjadi. Amin.

Tabik

Comments (1) »

Film anak kita menggelikan sekaligus mengerikan

Membaca judul di atas aneh bukan? kok film anak malah mengerikan. Memang begitu, setidaknya menurut pendapat saya pribadi. Beberapa kali saya menonton acara sinetron/film anak yang diputar di TV. Pada saat ditengah tayangan seringkali saya kaget, merasa aneh dan merasa kuno. Bagaimana tidak, anak-anak yang berseragam SD atau SMP sekarang sudah canggih-canggih. Canggih dalam merencanakan sebuah kejahilan (mungkin cenderung kejahatan) kepada teman-nya sendiri. Canggih dalam mengajak rekan-rekanya melakukan kejahilan kepada kawan-nya sendiri. Canggih dalam menggunakan dengan segala fasilitas hi-tech yang ada.  Kalau ada penggalan cerita dengan setting di sekolah, jarang yang lagi berdiskusi/belajar kebanyakan sedang bergosip, merencanakan kejahilan, berkelahi atau sedang mengintimidasi korban (kawan-nya yang lebih lemah).

Celakanya, pemeran korban (kawan yang lemah ini) juga sangat berlebihan. Menderita terus dan sial terus. Tidak ada kehendak untuk melawan, kecuali kalau ada mukjizat atau bantuan dari peri. Bagi saya ini sangat aneh.  Terkadang ada hal lucu juga, anak-anak disuruh berperan jadi gelandangan atau orang miskin tetapi pakaian nya terlihat mahal, kulitnya mulus dan bersih serta alas kaki yang mahal. setelah itu ujung ketemu sama orang kaya yang merasa kasihan dan diangkat anak. kalau tidak, ketemu keluarganya (ortunya, neneknya, pamanya dll) yang kaya dan jadi kaya akhirnya.

Kadang jadi ingat acara boneka Si Unyil atau film ACI (Aku Cinta Indonesia) yang nampaknya lebih relatif mendekati kenyataan sehari-hari pada umum-nya. Nonton sinetron/film anak kita jaman sekarang sungguh mengerikan sekaligus menggelikan.

tabik

Comments (2) »

Ngajak anak untuk berbagi

Pernahkan anda mengalami repotnya menenangkan anak-anak kita yang berebut mainan? atau pernahkan anda mengalami susahnya memberi pengertian ke anak-anak anda untuk bergiliran dalam menggunakan sebuah permainan?. Saya seringkali mengalaminya dan ini sungguh perbuatan yang tidak menyenangkan tetapi harus dilakukan. yang unik buat saya adalah kenapa mereka selalu ingin bermain dengan permainan yang sama pada waktu bersamaan?. Kadang jika kakaknya sedang diam, adeknya juga diam tidak melakukan aktivitas apapun, tetapi begitu kakaknya mulai ambil buku dan pensil warna tiba-tiba adiknya ingin juga memegang buku tersebut dan pensil warnanya sekalian.Berlaku juga sebaliknya. Kemudian kalau kita arahakan untuk mengambil buku lain dan pensil warna lain biasanya tidak mau. ingin yang sedang dipegang kakaknya (atau adiknya). Inilah yang bikin repot. Jadi terkadang kita beli mainan harus dua (kalau anaknya dua) dengan bentuk dan warna yang sama.

Sampai saat ini kalau ada kejadian rebutan begitu, pelan-pelan dan tetap tegas serta sabar, kami terus meminta mereka untuk bergiliran. pasti salah satu harus ada yang mengalah dan nangis (ini yang bikin kita sedih bukan..dan nggak tahan). Tapi tetap harus dilakukan. Kalau tidak, anak kemungkinan akan tumbuh mau menang sendiri dan bahkan (amit-amit dech) menjadi egois. Nah kalau udah begini kan yang rugi kita sendiri juga anaknya.

Cara lain selain meminta bergiliran adalah dengan bermain bersama. Tapi terkadang ini juga perlu proses dan kreatifitas orang tua dalam melihat situasinya serta permainanya saat itu. yaah intinya memang perlu proses, sabar dan ketegasan (konsisten). Kebiasaan berbagi saya pikir perlu ditumbuhkan sejak dini, walaupun kadang kita harus melihat anak menangis meraung-raung.

tabik

Leave a comment »

“Karakter anak dilihat dari mainan yang dipilih”

Judul di atas lebih merupakan pertanyaan ketimbang sebuah pernyataan. Pasalnya dua anak saya (keduanya perempuan) kalau pas mau beli mainan pasti memilih mainan yang sangat berbeda. Satunya (yang besar) biasa memilih buku tulis, buku gambar, pinsil berwarna dan hal-hal yang berwarna merah muda. Satunya lagi (adiknya-yang kecil) biasanya memilih mobil-mobilan, kereta bahkan pistol-pistolan. Nah dari sisi kelincahan bergerak (atau kemauan untuk bergerak) yang milih mainan  mobil-mobilan ini selalu bergerak, berlari dan loncat-loncat. dia tidak suka terlalu lama diam di suatu tempat, berbeda dengan anak yang milih buku gambar dan pinsil warna, lebih suka duduk diam mengamati sesuatu dan mulai corat-coret walaupun tidak ada hubungan dengan keadaan sekitarnya.

pernah suatu sore, anak yang kecil ingin main sekali ke taman untuk berlari-lari dan berkejaran dengan anjing, kambing dan anak-anak lainya. sementara kakaknya nggak mau dia hanya ingin duduk untuk menulis dan menggambar. Alhasil mbaknya bingung mau nurutin yang mana. keduanya masih kecil dan perlu ditemanin. repot yaa.

saya melihat dan mengamati karakter keduanya jauh berbeda. Orientasi pilihan mainan pun jauh berbeda. jadi apakah mungkin kita bisa lihat dengan cepat karakter anak dari mainan-mainan yang mereka pilih?

salam

Comments (1) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.