Akhirnya Boneka Kesayangan Hilang

Akhir Maret 2007 saya sekeluarga jalan-jalan ke Jogjakarta, saya, istri dan Wana Tirta serta tidak lupa boneka babi kesayangan si Wana. Turun di Adisucipto langsung pesan taksi ke Hotel agar cepat istirahat. Satu jam kemudian, masih pagi sekitar jam sembilanan  kami udah jalan-jalan ke tempat jualan gudeg jogja (tempat pastinya nggak hapal, deket kraton mungkin) sampai cukup siang, saat itu boneka babi masih dibawa oleh si Wana.

 Tanda-tanda boneka akan hilang dimulai ketika pada sore hari jalan-jalan ke kraton jogja, boneka tidak dibawa oleh si Wana, kemudian ketika makan malam di Malioboro boneka nyaris ketinggalan, untung tukang parkir mengantarkan boneka tersebut, tidak jadi hilang lah pada saat itu. Besoknya, saya jalan dengan Wana dan Tirta ke Galeria M untuk beli celana penyerap kotoran (susah juga padahal kalo nama mereknya pasti langsung tahu), boneka juga tertinggal di hotel H di kawasan Monjali. Nah, betulan tertinggalnya ketika kita chek out dari hotel..tidak ada boneka tersebut di mobil pada saat menuju bandara, balik lagi ke hotel kata pegawai hotel tidak ada.

 Perasaan sedih dan cemas justru ada pada saya dan ibunya, si Wana sendiri dengan santai hanya  bilang “ ayah, abi wana ketinggalan yaa, ilang yaa, nanti beli lagi yaa” nah loh. Padahal dulu kita selalu cemas bagaimana perasaan si wana kalo bonekanya hilang. Akankah dia menangis dan sedih mendalam, ternyata dia lebih santai daripada kita orang tuanya. Sampai-sampai kita telepon ke jakarta untuk membawakan boneka lain pada saat jemput di bandara..he…he…he…. Teryata selama ini, orang tua sudah salah tuduh, bahwa anak akan sedih ternyata santai saja.

 Saat ini, dia berganti boneka, dari boneka babi menjadi boneka ikan lumba-lumba..he..he..dan kayanya lupa dengan boneka babinya. Sempat juga ditanyakan oleh Mbaknya (keterlaluan mbaknya itu)  jawaban si wana ” tinggalan mbak disana jauuhhh kali” tanpa ekspresi sedih.

Say your words