Lain Tempat, Lain Perlakuan

Selama satu minggu ke belakang saya melakukan perjalanan ke wilayah Aceh Jaya, Propinsi Aceh (NAD). Dari Banda Aceh ke Calang (Ibukota Aceh Jaya) kurang lebih 8 Jam dengan menggunakan kendaraan roda empat (kebetulan nyupir sendiri). Aceh Jaya adalah kabupaten yang terparah terkena dampak tsunami, karena terletak di Pantai Barat Propinsi Aceh. Perjalanannya sendiri cukup mengasyikan sekaligus melelahkan, menyebrangi beberapa sungai dengan menaikan mobil ke atas rakit, kemudian menyusuri garis pantai berpasir dan tebing-tebing karang di pinggir laut. Juga, perkampungan penduduk di sepanjang jalan tersebut.

Nah, selama perjalanan tersebut banyak hal yang saya perhatikan, terutama berkenaan dengan anak-anak, sebagai contoh adalah :

  1. Anak-anak bertelanjang mandi di sungai yang keruh (coklat karena lumpur) tanpa kerisauan dari orang tuanya yang sedang mencuci di dekatnya
  2. Anak-anak dibawah umur lima tahun naik-naik pohon setinggi 4-5 meter, berebut buah dan bergelantungan sementara orang tuanya berada tak jauh sedang bergosip ria dengan orang tua yang lain.
  3. Kalung benang di leher dan dipinggang yang ada bandul kecilnya sebagai kepercayaan menangkal penyakit selalu ada pada anak-anak tersebut.
  4. Alas kaki bukan hal yang wajib he..he..he..
  5. De el el

Saya membayangkan jika anak saya Si Wana berada di tengah-tengah mereka, pasti dia akan kebingungan. Yang lain tidak ber-alas kaki, dia beralas kaki. Yang lain main air di sungai keruh, dia dengan polosnya akan bilang “jangan nanti ada kumannya loh”, atau pas sedang bermain naik pohon..dia hanya bisa nonton saja dan mungkin saja bilang “ Jangan naik-naik, anti atuh loh”, atau dia akan menunjuk kalung di leher dan bertanya “ini apa?”.

Tabik

7 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    senyumsehat berkata,

    Februari 10, 2007 @ 4:09 am

    wah anak2 desa memang lebih kuat ya pak imunitasnya, lha masak jaman sy di puskesmas dulu bayi lahir kok malah di taburi beras…bukannya di bersihkan udah gitu minta bedong di kasih sewek…letheek, aduuh..

    BTW sudah 3 th pasca tsunami belum ada perbaikan pak di Aceh?

  2. 2

    wanatirta berkata,

    Februari 10, 2007 @ 5:16 am

    he..he..he Emang anak kampung saya lihat badan dan tulangnya kuat-kuat, it’s look better physically, but I,ve no idea about intelligence.

    Yaaa, mbak jangankan Aceh (yang selalu konflik, ribut) Negeri ini udah 62 Tahun merdeka belum beres he..he..he..

  3. 3

    helgeduelbek berkata,

    Februari 10, 2007 @ 8:37 am

    Kekhawatiran membuat anak semakin tidak enjoy akhirnya bisa stress karena keseringan dilarang, menjadi kurang memiliki keberanian.

  4. 4

    passya berkata,

    Februari 10, 2007 @ 11:19 am

    anak kota emang dipikir2 jadi aneh….ya..gak bisa bermain senikmat anak2 desa tanpa harus memikirkan ini itu…

  5. 5

    wanatirta berkata,

    Februari 10, 2007 @ 1:42 pm

    Pak guru, Bung Passya memang Itulah yang terjadi di Kota, apalagi kalau rumah kita di cluster yang dijaga ketat satpam. Anak-anak jauh banget dengan realitas sosial disekelilingnya

  6. 6

    Arif Kurniawan berkata,

    Februari 12, 2007 @ 9:04 pm

    Pak, gimana agar anak yang tinggal di kantung-kantung urban kota dapat merasakan realita sosial?
    Dijauhkan dari media (biar ga nonton inpoteinmen)?
    Atau malah, kitanya yang pindah?

    Bingung… (*lah, belom punya anak saja sudah bingung!*)

    He..he..he..Bung Arif, urban kota sendiri merupakan realitas sosial, tidak hanya desa dan wilayah kumuh. nah, mumpung masih kecil semakin banyak dikenalkan terhadap realitas sosial yang ada maka anak akan semakin kaya wawasan dan tenggang rasa. saya punya kawan yang tidak pernah merasakan lapar (tidak tahu kali..) bagi dia tidak ada pembantu dan sopir udah tergolong miskin…bagaimana menurut anda?

  7. 7

    bunda berkata,

    Februari 14, 2007 @ 12:20 pm

    Hari sabtu lalu Wana dan Tirta pergi ke Bandung bolak - balik. Pulang sore hari sekitar jam 6 dan selama diperjalanan mereka berdua tdk tidur. Anehnya, kedua mbaknya sudah teler dan Wana n Tirta tetap bermain di mobil sambil membangunkan mbaknya agar mbaknya tidak jadi tidur.

    So.. siapa yang lebih Fit yach..

    @ Bunda : yaa mungkin WanaTirta sedang menikmati perjalanannya itu, sedang mbaknya udah capek ngurusin mereka sebelumnya he..he..he..tapi mungkin juga anak merasa exciting dengan suasana baru. BTW bundanya tidur nggak yaa.

RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda