“Anak Vs Orang Tua”
Pada akhir tahun 2004, saya dan beberapa kawan membuat semacam studi tata kosumsi dan produksi lokal (level kampung). Metode pengumpulan data ada dua cara, lewat sampling dan lokakarya (workshop). Kejadian yang saya ceritakan ini terjadi pada saat lokakarya.
Dalam undangan lokakarya sudah disebutkan bahwa acara akan berjalan selama dua hari, dengan lama acara setengah hari, yaitu jam 09 pagi sampai jam 14.00 siang, diselingi snack dan makan siang. Peserta yang diundang adalah para ibu yang berada di kampung tersebut, tetapi pada saat pelaksanaan pesertanya bertambah, plus sejumlah anak-anak yang berumur dibawah umur lima tahun.
Awalnya acara berjalan lancar, tapi begitu pertengahan mulai terdengar tangisan dan kerewelan anak-anak. Mulanya kami tidak menghiraukan kerewelan-kerewelan tersebut, bagi kami itu wajar, namanya juga anak kecil. Tapi kemudian kami jadi terganggu juga, ketika kerewelan menjadi semacam pertengkaran antara anak dan ibu. Kenapa saya bilang begitu?, karena yang terjadi di depan kami adalah sebuah adegan dimana,
Ibu berteriak dibalas dengan anak jeritan anak, Ibu mencubit dibalas dengan pukulan dan lemparan sang anak. bukan itu saja, karena tidak mau mendapat malu Sang Ibu menyuruh anak itu ke neneknya (yang kebetulan ikut juga), tetapi apa lacur, ternyata perlakuan Sang Nenek pun tak jauh berbeda, Bahkan akhirnya bapak-bapak nya pun berlaku serupa.
Akhirnya acara lokakarya selesai juga, tetapi ingatan akan adegan di atas tak pernah hilang sampai saat ini. Sang Anak ternyata telah dibiasakan dengan kekerasan sejak kecil, masalah diselesaikan dengan cubitan ketimbang komunikasi. Waktu saya tanya ke kawan saya yang lived in (tinggal di kampung) dia bilang emang sudah biasa hal itu terjadi sehari-hari, baik ibu maupun bapaknya sama saja memperlakukan anak seperti itu.
Tapi dari kejadian tersebut, saya punya pelajaran yang sangat berharga. sejak saat itu kami tidak lagi membuat acara yang melibatkan ibu-ibu dalam waktu yang lama. Cukup satu jam saja pertemuan dengan ibu-ibu, walaupun harus dilakukan berhari-hari untuk melakukan sebuah pelatihan durasi 4 jam.
Maafkan kami, kami merasa bersalah, pertama membuat acara yang terlalu menyita waktu ibu-ibu, kedua tidak melakukan apapun ketika adegan pertengkaran tersebut berlangsung. Kami anak kota emang sok tahu.
Tabik.
helgeduelbek berkata,
Februari 4, 2007 @ 4:11 am
Orang tua lebih sering ingin dimengerti oleh si anak, tapi orang tua tidak mau mengerti kemauan si anak dalam kondisi seperti itu..
senyumsehat berkata,
Februari 6, 2007 @ 7:01 pm
Mungkin mustinya ada tempat bermain/penitipan buat anak2nya pak, lha mosok anak2 di ajak ikut pelatihan 4 jam…mana tahan…wong tuwo aja ada coffee break… yo mesakno wis ga mudheng di jiwiti sisan…oalaah. ibu2nya kudu di kasih pembelajaran juga jangan nyubitin anak2 ga berdaya…, anak2 itu good learner, sekali kita nyontohin ga bener di inget seumur hidup…
Salam,
Evy
wanatirta berkata,
Februari 9, 2007 @ 1:43 am
Yaa begitulah Pak Guru keadaannya, Kalo penitipan mungkin fasilitas kayak gitu belum ada (bahkan belum dikenal) di kampung-kampung Mbak. wong kesananya aja pake jalan kaki kurang lebih 10 Km he..he..he.
Ali Goik berkata,
Februari 17, 2007 @ 6:04 am
Anak selalu dianggap sebagai asset keluarga, pola pikir inilah membuat para orang tua menjadi sesat pikir….. ( hehehe ).
Tabek
Ali Goik
Fourtynine berkata,
April 14, 2007 @ 11:02 am
Orang tua hanya minta anaknya mengerti. Tapi apakah orang tua dapat memahami anak anaknya?????
@ itulah yang susah he..he..he…he.