“Hiiyy Takut Ada Kecoa” (Kecoak Phobia)

Saya takut (kata ngelesnyaa, geli, malu, alergi d el el) sama kecoa. Kenapa? Saya sendiri enggak tahu, yang jelas saya takut sama kecoa. Walaupun semenjak kuliah ketakutannya sudah bisa dikendalikan lagi. Kawan saya lebih parah, sampai saat ini, sudah menikah, dia masih takut secara berlebihan sama kecoa. Maksud berlebihan disini adalah dia bisa melakukan hal-hal tak terduga begitu melihat kecoa, seperti melempar barang yang ada di dekatnya, memukul orang yang berada disampingnya, atau loncat tanpa memperhatikan sekitarnya, alhasil kepala kepentok, kaki tersandung udah biasa, apalagi kecoanya datang secara mendadak.

Anak saya takut juga ama kecoa, dia selalu teriak ”hiiyy atut ayah ada oak (kecoak)”. Phobia turunan kah?. Sejauh saya tahu kayanya bukan dech, atau ada pendapat lain?. Atau apakah ini akibat (dampak) dari pembangunan realita dari kecil yang salah kaprah?. Maksud dari pembangunan realita salah kaprah misalnya begini, banyak orang tua saat mengasuh anak mengeluarkan ungkapan seperti :

“ heey nak jangan kesitu gelap”. Atau, ” hiyyy jijik ah ada kecoa”, atau ”Jangan main ke sana ada genderuwonya”.

Jelas ucapan-ucapan di atas jika sering digunakan kepada anak akan menciptakan realita tersendiri buat si anak (he..he..sok berteori ah). Kalau kita bahas salah satu ungkapan di atas, misalnya “ heey nak jangan kesitu gelap”, kalo keseringan maka (mungkin) akan tercipta sebuah pemahaman (realita dalam pikiran) bahwa gelap itu menakutkan dan berbahaya, dimana pemahaman ini terbawa sampai dewasa (padahal bayi selama sembilan bulan dalam kandungan dalam keadaan gelap nggak papa kok he..he..).

Jadi, apakah saya takut kecoa karena waktu kecil yang ngasuh saya sering menakuti-nakuti saya dengan kecoak (nggak tahu, karena mereka juga udah lupa waktu saya tanya). Tetapi menurut salah satu literatur yang saya baca, phobia banyak ditimbulkan akibat pendidikan sewaktu usia pra sekolah (Ost.L.G. 1987). Dan, yang jelas saya punya PR bersama istri saya untuk memberi pemahaman ke anak saya bahwa nggak perlu takut sama kecoak. Dan ungkapan di atas sebaiknya di ganti menjadi ”heey nak ada kecoa tuh, kita suruh pulang dia ke kandangnya yaa”  (sambil bawa sapu lidi he..he..karena saya masih takut ama kecoa).

Tabik

About these ads

7 Responses so far »

  1. 1

    helgeduelbek said,

    Perlu banyak pemahaman terhadap kebiasaan anak yah ceritanya, agar tidak salah kaprah, tapi selama ini yang dulu sering diajar keliru oke saja sekarang, cuman yah gak maulah ngulang kesalahan untuk anak kita.

  2. 2

    wanatirta said,

    He..he…saya juga kapok Pak Guru, diledekin melulu..katanya badan gede kok takut ama kecoak..payah dech. Jadi semoga tidak terjadi ama anak saya

  3. 3

    senyumsehat said,

    Hallo ayah-nya wanatirta,
    Nah bener anak2 jangan di takut2i, nanti jd takut beneran selamanya, karena “mindset” sudah tercipta. Seperti hantu juga masing2 punya mindset sendiri ttg hantu.. di Indo hantunya pocongan, sundel bolong. DI US ada sundel bolong jalan malem2 ya ga ada yg takut.. soalnya pada ga tahu itu hantunya Indonesia…hehehe… kalau halowen malah semua jd hantu, BTW teman2 anak saya memelihara kecoa lho katanya “cute” :-)).

  4. 4

    wanatirta said,

    Yaa, betul Mbak. Hanya saja disini tekanan lingkungan cukup kuat juga, jadi semua pihak dirumah perlu kerja ekstra juga he..he..he. Mengenai kecoak sbg pets menarik juga..jadi terinspirasi makasih Mbak.

  5. 5

    agorsiloku said,

    Walah… saya paling takut sama kecoa. Kalau ada, di kamar mandi. Buru-buru keluar pakai anduk, terus minta orang lain usir itu kecoa… baru nerusin mandi…. payah ya. Tapi sekarang sudah mendingan. Gara-garanya, waktu kecil ada kecoa nemplok dimuka, terus digaplok, pecah dijidat…. trauma….

    Ha.ha..ha..ha..saya hapal betul bau kecoak …saat baca ini aja baunya udah teringat.

  6. 6

    Saya paling males (istilah kerennya buat takut?) pegang laba-laba, kecoa dkk. Karena ketiga anak saya lebih takut lagi dan nggak mau masuk WC yang ada gitu-gituannya, ya terpaksa si bapak (sok) beraniin diri, nangkep dan buang. Nah hasil dari action (yang terpaksa) ini, saya nggak apa-apa lagi nagkap laba-laba pakai jurus tangan kosong, tapi kecoa? Minta ampun! Sekali nggak mau lagi dah seumur-umur! Baunya luarbiasa, bisa bikin setan penghuni WC kabur!

  7. 7

    KimO gokil said,

    hah kecOa…..?????ngapain takut???justru gw sng lyt kecOa,matanya gede Kumisnya panjang and lentik…Klo ada d kamar malah sering gw makan…hahahaha..jadi jgn takut yah sm kecoa

    Iya …kadang orang beda-beda, nggak takut dengan kecoa tapi kadang takut dengan cicak he..he..he..


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: