Kok Jadi Tembok Yang Disalah-hin ?
Seringkah kita mendengar ucapan-ucapan seperti ini :
”Mana yang nakal?, ini yaa tembok nya nakal yaa, udah jangan nangis lagi, temboknya udah ayah pukul tuh!”.
Biasanya ucapan di atas muncul pada saat Sang Anak nangis karena terbentur tembok. Terbentur entah karena lantai licin, entah karena lari-lari atau tak sengaja tersenggol orang dewasa. Ucapan tersebut sudah sangat biasa, sangking biasanya seolah-olah sudah menjadi kebenaran umum, atau ucapan yang secara sadar dan nggak sadar terlontar begitu kejadian anak terbentur tembok.
Tapi kalau kita coba pikir lebih dalam, apa iya begitu? Adakah dampak bagi sikap Sang Anak kemudian?. Ada beberapa hal yang menjadi kegelisahan disini, yaitu :
- Kenapa tembok yang disalahkan? Tembok kan benda mati, sudah ada disana sebelumnya, bahkan mungkin sebelum anak itu lahir.
- Tidakah ini akan mendidik anak ke arah yang salah?. Saya khawatir nanti Sang Anak selalu menyalahkan orang atau menyalahkan lingkungan, padahal dia yang salah sehingga kesempatan untuk lebih berhati-hati atau memperbaiki diri akan berkurang.
- Apakah orang yang berkata begitu (menyalahkan tembok untuk menenangkan anak) dulunya di-didik dengan cara yang sama?
- Mungkinkah dicari kata atau cara yang lebih tepat untuk menenangkan anak?
Bagaimana para orang tua, apakah anda punya kegelisahan yang sama?. Ini menjadi penting dalam rangka pembangunan karakter sportif sejak dini (sok ah..he..he..)
Tabik
Kang Kombor berkata,
Februari 1, 2007 @ 6:44 am
Saya setuju untuk tidak menyalahkan tembok. Menurut saya itulah penyebab kita selalu mencari kambing hitam setiap terjadi masalah. Oleh karena itu, saya tidak pernah menyalahkan pintu, jendela, atau tembok kalau anak saya menangis karena terbentur. Saya tanya mana yang sakit, lalu saya usap-usap bagian yang sakit itu sambil menasehati dia supaya lain kali hati-hati.
Agar bangsa kita lepas dari budaya kambing hitam, sudah sepantasnya para keluarga muda mulai mengajarkan untuk tidak menyalahkan tembok, pintu, jendela, batu, aspal atau hal-hal lain yang memang benda mati itu.
Makasih Kang udah mampir..Emang harus dimulai ada kesadaran itu pada orang tua.
grandiosa12 berkata,
Februari 1, 2007 @ 7:29 am
idem dengan kang kombor, saya coba untuk tidak seperti kejadian di atas…… bagus tulisannya mas, saya malah ketawa sendiri, masih banyak orang yang memperlakukan anak kayak gitu.. masa temboknya dibalas dengan dipukul sama ayah/ibu.. Ini sama saja meracuni logika anak.. hehehee..
helgeduelbek berkata,
Februari 2, 2007 @ 12:14 am
Wah kalau saya sih tidak tapi istri saya yang kadang berlaku seperti itu, tapi sering saya goda kalau ngomong yang kadang tidak masuk akal. Mungkin si anak belum mendapatkan efek langsung. Jadi ini terbukti anak salah setiap melakukan kesalahan pasti menyahkan orang lain. Terimakasih pencerahannya untuk menyadarkan prilaku yg tidak bener untuk anak.
Pak Guru, Bung Roffi, saya juga kadang luput memperhatikan hal-hal yang terjadi sekejap pada anak, padahal sangat mempengaruhi perkembangan anak…masih belajar membesarkan anak nih.
adhul07 berkata,
Februari 17, 2008 @ 6:52 pm
wah mantap nich..!!! kita boleh dhong d bagi berbagai cerita tentang anak ?? maklum aadhul suka rewel looo!!! trims