Februari 14, 2007
· Disimpan dalam Nasib Anak
Pernah dengar pertanyaan di atas?, saya pernah. Begitu mendengar pertanyaan tersebut, saya terkejut. Daripada sibuk mencari jawabannya malah saya sibuk berpikir ”kok bisa pertanyaan tersebut dilontarkan”. Pertanyaan di atas diucapkan oleh mantan pembantu saya yang berumur 19 tahun, pada saat ikut berkendara dari Bandung menuju Bogor. Kebetulan setelah lepas Kota Cianjur kami melewati kawasan puncak yang berbukit-bukit dan disanalah terlontar pertanyaan tersebut. Hal lain lagi yang membuat kami terkesima oleh perilaku dia adalah pada saat dia menuangkan Coca Cola (Bukan promosi yaa), dia mencampurnya dengan air putih. Ketika kami tanya kenapa di campur air putih, dia jawab dengan polosnya ” Loh kan sirup harus dicampur air pak” padahal jelas-jelas yang dia pegang adalah botol coca-cola dan dia sendiri yang membukanya. Pembantu saya itu lulusan SMP dan berasal dari sebuah Desa di ujung timur Propinsi Jawa Timur. Baca entri selengkapnya »
Februari 9, 2007
· Disimpan dalam Nasib Anak
Selama satu minggu ke belakang saya melakukan perjalanan ke wilayah Aceh Jaya, Propinsi Aceh (NAD). Dari Banda Aceh ke Calang (Ibukota Aceh Jaya) kurang lebih 8 Jam dengan menggunakan kendaraan roda empat (kebetulan nyupir sendiri). Aceh Jaya adalah kabupaten yang terparah terkena dampak tsunami, karena terletak di Pantai Barat Propinsi Aceh. Perjalanannya sendiri cukup mengasyikan sekaligus melelahkan, menyebrangi beberapa sungai dengan menaikan mobil ke atas rakit, kemudian menyusuri garis pantai berpasir dan tebing-tebing karang di pinggir laut. Juga, perkampungan penduduk di sepanjang jalan tersebut. Baca entri selengkapnya »
Februari 4, 2007
· Disimpan dalam Nasib Anak
Pada akhir tahun 2004, saya dan beberapa kawan membuat semacam studi tata kosumsi dan produksi lokal (level kampung). Metode pengumpulan data ada dua cara, lewat sampling dan lokakarya (workshop). Kejadian yang saya ceritakan ini terjadi pada saat lokakarya. Baca entri selengkapnya »
Februari 3, 2007
· Disimpan dalam Nasib Anak
Saya takut (kata ngelesnyaa, geli, malu, alergi d el el) sama kecoa. Kenapa? Saya sendiri enggak tahu, yang jelas saya takut sama kecoa. Walaupun semenjak kuliah ketakutannya sudah bisa dikendalikan lagi. Kawan saya lebih parah, sampai saat ini, sudah menikah, dia masih takut secara berlebihan sama kecoa. Maksud berlebihan disini adalah dia bisa melakukan hal-hal tak terduga begitu melihat kecoa, seperti melempar barang yang ada di dekatnya, memukul orang yang berada disampingnya, atau loncat tanpa memperhatikan sekitarnya, alhasil kepala kepentok, kaki tersandung udah biasa, apalagi kecoanya datang secara mendadak.
Baca entri selengkapnya »
Februari 2, 2007
· Disimpan dalam Wawasan
Dulu waktu saya kecil dan sampai sekitar SMA-an lah mungkin, masih punya pemikiran bahwa anak cerdas atau pinter adalah anak yang sering mendapat nilai matematika, fisika dan kimianya 10. Saat itu, saya menganggap bahwa anak yang berada di kelas IPA (dulu disebut juga A satu, kenapa bukan A tiga yaa?) adalah anak yang relatif lebih pinter dibanding yang masuk IPS ( A dua atau A tiga). Kadang-kadang juga saat ikut nimbrung acara ibu-ibu, sesekali terdengar para ibu bergosip dengan membanggakan anaknya yang masuk IPA atau kuliah di Tehnik (yang pastinya dulu kalo sekolah di tehnik akan mendapat gelar Tukang Insinyur).
Baca entri selengkapnya »
Februari 1, 2007
· Disimpan dalam Nasib Anak
Seringkah kita mendengar ucapan-ucapan seperti ini :
”Mana yang nakal?, ini yaa tembok nya nakal yaa, udah jangan nangis lagi, temboknya udah ayah pukul tuh!”.
Biasanya ucapan di atas muncul pada saat Sang Anak nangis karena terbentur tembok. Terbentur entah karena lantai licin, entah karena lari-lari atau tak sengaja tersenggol orang dewasa. Ucapan tersebut sudah sangat biasa, sangking biasanya seolah-olah sudah menjadi kebenaran umum, atau ucapan yang secara sadar dan nggak sadar terlontar begitu kejadian anak terbentur tembok.
Baca entri selengkapnya »