Anak Tahu Kalo Orang Tua Stress karena Pekerjaan

Tak sengaja kemarin membaca artikel yang berjudul ”Kids Offer Advice to Stressed-Out Parents” di http://www.livescience.com/humanbiology/070123_working_parents.html. Setelah membaca isinya terkejut juga, ternyata menurut penelitian yang dituliskan dalam artikel tersebut, anak-anak tahu kalo orang tua pulang ke rumah dalam keadaan stress karena pekerjaan dan disadari atau tidak, stress orang tua karena pekerjaan yang terbawa ke rumah akan mempengaruhi anak.

 

Landasan dari artikel tersebut adalah survey yang dilakukan terhadap 600 orang tua pekerja dan 1000 anak dengan variasi umur dari grade 3 sampai grade 12. Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada anak-anak adalah perubahan apa yang paling diharapkan oleh mereka (anak) dari orang tua yang bekerja (diterjemahkan bebas aja). Lebih dari setengah orang tua menduga bahwa anak akan berharap lebih banyak waktu orang tua untuk mereka. Ternyata dugaan itu salah sama sekali, jawaban anak adalah berharap orang tua mereka jumlah stress yang dibawa kerumah berkurang. Karena menurut anak-anak tersebut, jika orang tua mereka berkurang rasa lelah dan stressnya maka anak-anak pun akan tidak terbawa stress pula.

 

Anak-anak sangat sensitif, mendengar langkah berat orang tua saat pulang kantor pun sudah menjadi pertanda bahwa orang tua mereka sedang stress, atau mendengar percakapan orang tua di telepon.

 

Di atas adalah penelitian yang dilakukan di Amerika, bagaimana dengan di sini, apakah sama?. Tetapi setelah membaca artikel di atas, kebiasaan saya bawa pulang kerjaan perlu dipikirkan ulang.

 

Tabik

2 Responses so far »

  1. 1

    helgeduelbek said,

    Yah ini buat kita sekedar penyadaran diri untuk memberikan hak ke anak. Anak indonesia sepertinya tidak sesensitif seperti itu

  2. 2

    Rakhmat said,

    Saya kira anak secara universal mempunyai sensitifitas yang sama, hanya kita saja kurang memperhatikannya dan memang itu belum ada data empiriknya di Indonesia atau ada tetapi tidak terpublikasikan dengan luas.

    Karena saya belum punya anak–bukan berarti tidak sensitif terhadap persoalan anak, pengalaman empirik saya berkenaan dengan fenomenon di atas tidak hanya pada anak2 ditemukan juga dalam binatang.

    Cerita pengalaman: saat saya berkunjung ke rumah sahabat dan membicarakan persoalan hidup, kami sama-sama termenung dalam diam, kemudian anaknya ikut duduk bersama kami. Setelah memandangi kami tiba-tiba dia bertanya: “Ada apa sih? “, Bapaknya menjelaskan seperti berbicara kepada sesama.
    Yang ingin saya sampaikan bahwa kita akan memberi perhatian bila memang kita sensitif dan si anak mengekspreskannya dalam bahasa yang kita mengerti yang ada dalam benaknya, persoalannya bagaimana bila si anak menyimpannya sendiri dan kita tidak peduli?


Comment RSS · TrackBack URI

Say your words