Film Kartun ≠ Film Anak
Saya pikir, setiap orang yang membaca judul di atas pasti akan setuju. Apalagi belum lama ini banyak anak yang menjadi korban (dari sekedar luka-luka memar sampai mati) tayangan acara “smack down”, yang mana ada versi kartun dan bukan kartunnya. Untungnya pemerintah cepat tanggap (tumben banget) segera melarang tayangan acara ini, walaupun sudah jatuh korban duluan.
Film Kartun yang sering ditayangankan oleh media televisi sebenarnya dari segi isinya belum tentu untuk kosumsi anak kecil ( yaa 10 tahun kebawah lah), justru seringkali film-film dengan media kartun ini berisi cerita-cerita kehidupan orang dewasa, hanya medianya saja yang kartun. Apalagi film kartun yang mengandung kekerasan dalam alur cerita atau penggambarannya, jelas ini bukan kosumsi anak kecil. Misalnya seorang pendekar membawa pedang atau samurai menebas leher lawanya, atau seorang penjahat yang menembak kepala korban sampai pecah berhamburan. Nah kalau yang seperti ini kosumsi anak, apa jadinya mereka nanti.
Masalah kekerasan dalam film kartun sudah sering dibahas, bahkan sudah banyak yang melakukan penelitian resmi berkaitan terhadap perkembangan anak kecil terutama 3 – 7 tahun. Salah satunya adalah Cartoon Violence: Is It as Detrimental to Preschoolers as We Think? Oleh Kristen M. Peters and Fran C. Blumberg1, yang dipublikasikan dalam jurnal Early Childhood Education Journal, Vol. 29, No. 3. Kesimpulan dari artikel tersebut adalah kekerasan dalam film kartun tergantung dari interprestasi si anak yang nonton, apakah dia bisa membedakan kebenaran yang ada dalam film tersebut dengan realita sebenarnya di luar film. Jadi, kalau si anak bisa membedakan antara kebenaran dalam film dan realita sebenarnya, maka film kartun yang mengandung kekerasan tidak berpengaruh negatif terhadap kelakukan si anak, jika tidak maka akan sangat berpengaruh. Kesimpulan ini, diakui masih menjadi kontroversi.
Tetapi intinya, apakah kita bisa menjamin bahwa anak yang berumur 3 – 7 tahun tersebut mampu melakukan itu, padahal contoh bahwa anak menelan bulat-bulat apa yang tersaji dalam film kartun lebih banyak kan…seringkali kita mendengar cciiaatttt..ciiaatttt atau dor….dor…dari mulut anak.
Nah, biar aman untuk orang tua yang punya anak kecil, alangkah lebih baik jika memeriksa setiap film kartun yang muncul di televisi atau dalam disc (DVD atau VCD) apakah mengandung kekerasan atau tidak. Jadi jangan tertipu dengan film kartun. Film kartun tidak selalu film anak kok.
Tabik
helgeduelbek berkata,
Januari 30, 2007 @ 7:18 am
Betul setuju, bahkan kartun tom n jery saja ada beberapa adegan yang tidak layak tonton, lucu sih lucu, tapi menghawatirkan jika anak menirunya. Perlu pengawalan dan penjelasan seketika.
grandiosa12 berkata,
Januari 31, 2007 @ 3:21 pm
enaknya sih porsi nonton film atau bermain videogame dikurangi…. banyak orang lupa bahwa lebih banyak kegiatan bermanfaat lainnya sebagai contoh membaca buku, dan kegiatan lain.. kalaupun menonton TV/DVD ya memang harus diseleksi tontonannya..
wanatirta berkata,
Januari 31, 2007 @ 3:51 pm
Biasanya anak manut aja Bung Roffi, yang ngasuh biasanya nggak tahan nonton film he..he..thanks.
Kang Kombor berkata,
Februari 1, 2007 @ 7:19 am
Saya setuju kalau film kartun tidak sama dengan film anak. Buktinya ada anime, hentai … weleh…. Mangkanya, sebisa mungkin dampingi anak kalau sedang nonton film kartun agar bisa langsung memberi komentar kalau ada adegan yang perlu dikomentari.
s-noe berkata,
Maret 22, 2007 @ 12:03 pm
film kartun terbaik adalah sesuatu dimana seseorang bisa menempatkan diri pada suatu yang dianggap benar, karena dimanapun semua film kartun kalau tidak kita cermati maka celakalah kita sebagai orang tua,seperti halnya film kartun smack down, film dragon ball, samurai x, dan masih banyak lagi dimana semua itu selalu menjurus pada kekasaran.
maka dari semua itu kita sebagai orang tua harus pandai - pandai memilih axara film kartun bagi anak - anak kita biar lebih dewasa.
salam dari s-noe tegowanu kulon
@ salam kembali mas, maaf lama banget balesnya he..he..
rochmadpurnama berkata,
Agustus 8, 2007 @ 6:28 am
film kartun itu lucu-lucu sehingga anak betah di rumah dari pada bermain yang tidak jelas sehangga pengawasan orang tua bisa maksimal
fuhas berkata,
Desember 1, 2007 @ 3:58 am
kalo bisa film kartun yang bisa mendidik anak-anak N kalo bisa filmnya jangan yang memboringkan
gugun guntara berkata,
Februari 13, 2008 @ 6:26 am
film kartun yang ditayangkan perlu diseleksi ketat untuk anak,disamping dijadikan tontonan juga sekaligus menjadi tuntunan.Pemerintah harus proaktif didalam pengawasan untuk media elektronik didalam program penayangan film kartun tersebut,dari lingkungan informal dulu anak kita dididik,dilatih dan diarahkan,intinya ini menjadi tanggungjawab kita bersama.