Archive for January 27, 2007

Bedong dan Popok Baru

Ini masalah keyakinan, betul nggaknya urusan belakangan. Waktu melahirkan anak pertama, mertua sibuk nyuruh-nyuruh untuk nyiapin bedong dan popok baru, kalau nggak pamali alias ora ilo (apa yaa bahasa indonesiasnya..?). Walaupun duit udah cekak, terpaksan juga nyiapin berapa bedong, popok dan akhirnya dua pasang baju bayi baru untuk lahiran anak pertama, yaah daripada pamali lebih baik tekor dech.

Begitu waktu lahiran tiba, kebetulan ada beberapa calon ibu juga mau lahiran diruangan yang sama (maklum rumah sakit pemerintah kelas 3 pula) para suster minta sepaket perlengkapan bayi, nahh ini dia, dikeluarin lah sepaket perangkat bayi yang baru-baru dari toko tersebut, giliran calon ibu tetangga yang diminta, ternyata boro-boro baru mungkin untuk sebagian orang udah jadi lap mobil (maaf yaa, faktanya begitu). Timbul pikiran “kok nggak takut pamali yaa” kemudian timbang penasaran lebih baik tanya aja,

“bu, kok nggak dikasih yang baru ke suster yaa”

“enggak non, abis nggak punya uang, kalo punya juga mending buat bayar lahiran”. Nah lo, tanya terus dong,

“Ibu nggak takut pamali klo enggak ngasih bedong ama popok baru”

“Pamali kenapa non, punya nya emang itu kok, lagian keluarga saya mah udah biasa kok pake kain-kain bekas aja, malah ada ponakan saya waktu lahir pake bekas kakaknya, sehat-sehat aja tuh sampai sekarang”. Si Ibu balik nanya, ” emang kata siapa pamali?”.

kalau dijawab dari mertua nggak enak, lebih baik jawab ” aah enggak denger-denger aja dari tetangga bu”.

Kayanya kata si Ibu emang betul, enggak ada hubungan bedong, popok dan baju baru untuk keselamatan si jabang bayi. Ternyata emang saya yang kena tipu mertua, karena mertua nggak mau mendapat malu kalo cucunya pake bedong hanya kain bekas saja, malu dilihat sama teman-temanya yang nengok. Padahal kalo mau dipikir-pikir lagi, emang bayinya bakal protes kalau dipakein kain biasa atau bekas, kayaknya dia nggak pusing tuh. Kasihan sekali nasib anak bayinya, belum keluar aja udah di eksploitasi.

Tabik

Leave a comment »

WanaTirta Nama yang Dikasih Bapak

Yang satu namanya Wana, anak perempuan, cantik dan cerdas kadang bikin gemes orang. Nama Wana dikasih bapaknya karena bapaknya suka naik gunung, seorang pendaki gunung, mungkin setengah petualang rada sinting, begitu katanya ketika ditanya. Satu anak lagi bernama Tirta, kata dia bapaknya suka main di air, entah sungai, laut atau mungkin sekedar main air di bak mandi. tapi itu nggak penting, anehnya kok kedua-duanya kompak bahwa nama itu dikasih bapaknya, kenapa nggak dikasih ibunya gitu. apakah mereka udah nanya ke ibunya, kenapa ibunya nggak kasih nama. mungkin kalo ibunya yang kasih nama akan lain kali. Wana bisa saja jadi Awan kan, Tirta bisa aja menjadi Ritta. Ini memang sebuah kejadian yang sering terjadi, Bapak merasa lebih berhak memberi nama, karena dia kepala keluarga, pendapat ibu diabaikan, kasihan.

Kalau tanya ke Bapaknya, kenapa anaknya dikasih nama Wana dan Tirta, jawaban bapaknya enteng aja,

” yaa biar ada panggilan dulu, anak itu kan belum bisa bikin nama sendiri. waktu saya ditanya suster siapa namanya, yaa udah jawab saja itu. Nama Wana nggak ada hubungan kok dengan Hutan, gitu juga Tirta nggak hubungan dengan kesukaan saya main air”.

Lain lagi kalau tanya keNeneknya. Menurut beliau, nama Wana Tirta emang diberikan agar anak tersebut kelak menjadi pelindung dan pemberi kehidupan bagi umat manusia. Aah si Nenek, padahal waktu lahir aja nggak lihat, gimana dia bisa ngarang segitu hebatnya.

Balik lagi ke soal semula, WanaTirta adalah sebuah nama, bisa bermakna bisa tidak dan tidak ada yang pusing juga kan dengan itu. Kalau cocok dia bisa pakai terus (gitu kata bapaknya) kalau enggak yaa udah ganti aja sendiri (kata bapaknya juga).

Tabik.

Comments (6) »